Wednesday, October 16, 2013

PENGENALAN OPNET

imageOPNETS adalah tools simulasi jaringan yang menyediakan Jaringan Virtual Lingkungan dengan model yang seluruh jaringan, termasuk router-nya, switch, protokol, server, dan
aplikasi individu. Dengan bekerja di Lingkungan Virtual Network, IT
manajer, jaringan dan perencana sistem, dan staf operasi dapat dengan mudah mengatasi
masalah sulit dan mendiagnosa lebih efektif, mevalidasi perubahan sebelum mereka merancang jaringan sesungguhnya, dan rencana untuk masa depan termasuk skenario pertumbuhan dan kegagalan.
Software ini memiliki kelebihan-kelebihan untuk mendesign jaringan berdasarkan perangkat yang ada di pasaran, protocol,layanan dan teknologi yang sedang nge-trend di dunia telekomunikasi. Hasil simulasi dapat dibuat dalam beberapa skenario sehingga dapat dijadikan dasar di dalam perencanaan suatu jaringan berbasis paket.

Salah satu cara yang mudah untuk merencanakan suatu jaringan berbasis paket adalah dengan mensimulasikan suatu jaringan dengan kondisi yang serupa dengan kondisi eksisting. Jenis perangkat switch (router, switch), jaringan transmisi, layanan, protocol dan lainnya yang terdapat di dalam jaringan eksisting digambarkan di dalam OPNET untuk selanjutnya di simulasikan dalam waktu tertentu untuk dapat dilihat parameter yang dibutuhkan. Simulasi dapat juga dilakukan untuk memprediksikan kebutuhan di dalam suatu jaringan berbasis paket untuk beberapa tahun ke depan berdasarkan prediksi demand, layanan ataupun teknologi yang mungkin dipergunakan pada masa mendatang.
Dengan membuat beberapa model simulasi, prediksi kebutuhan jaringan (BW), kebutuhan quality of service suatu layanan, jenis perangkat yang tepat, dan lain-lain dapat digambarkan, sehingga hasil ini dapat dipergunakan untuk suatu perencanaan suatu jaringan berbasis IP. OPNET dapat dipergunakan untuk simulasi jaringan paket berbasis Internet Protocol (IP), Asyncronous Transfer Mode (ATM), Frame Relay ataupun TDM. Jenis layanan yang disimulasikan juga beragam, baik itu internet (WEB), VoIP, File transfer, video conference, video streaming dan lain-lain yang dapat di setting berdasarkan kebutuhan dari pengguna simulasi. Secara umum OPNET sudah cukup sebagai simulator berbasis paket yang handal dan dapat dikembangkan oleh penggunaannya.
Secara khusus di dalam pengembangan jaringan di beberapa perusahaan telko sudah mengacu kepada penggunaan teknologi paket berbasis IP. Untuk itu simulasi jaringan berbasis paket pada tulisan ini dibatasi pada penggunaan teknologi paket berbasis IP.

1. Komponen Jaringan jaringan berbasis IP

Untuk lebih memahami jaringan IP secara umum dan perangkat serta komponen yang akan turut serta sebagai pembentuk jaringan yang akan disimulasikan, kiranya perlu digambarkan beberapa komponen utama jaringan tersebut. Komponen utama pembentuk Jaringan IP terdiri dari perangkat-perangkat sebagai berikut:
a. Router. Merupakan komponen dasar yang berfungsi merutekan paket IP dari pengirim menuju ke penerima. Perangkat ini bekerja pada layer 3, yaitu melakukan pemprosesan alamat IP untuk keperluan ruting.
b. Switch. Perangkat ini berfungsi juga untuk merutekan trafik dengan menggunakan MAC address. Ruting yang dilakukan lebih sederhana dari router, akan tetapi dengan pemprosesan yang sederhana memungkinkan switch merutekan trafik dengan kecepatan yang lebih tinggi.
c. Bridge. Perangkat ini digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih jaringan yang menggunakan media berbeda. Perangkat ini bersifat multi broadcast single collision.
d. Hub. Perangkat ini hanya berfungsi sebagai pembagi saluran. Hub tertentu juga menguatkan sinyal yang dikenal dengan hub aktif. Sedangkan hub yang tidak menguatkan sinyal dikenal sebagai hub pasif.
e. Server. Jaringan tidak hanya sekedar susunan perangkat-perangkat seperti tersebut diatas, akan tetapi juga diperlukan keberadaan aplikasi dalam jaringan tersebut. Server berfungsi sebagai penyedia layanan aplikasi dalam jaringan.
f. Workstation. Workstasion berfungsi sebagai tempat pelanggan jaringan menjalankan aplikasi layanan yang disediakan oleh jaringan melalui server-servernya. Workstasion dapat berupa personal computer atau perangkat CPE lainnya.
g. Routing. Routing adalah protokol Jaringan IP yang sangat penting, dimana dengan keberadaan routing jaringan akan diatur sedemikian rupa sehingga trafik yang mengalir di dalamnya dapat diefisienkan seefisien mungkin. Sebaliknya dengan routing yang tidak tepat akan memungkinkan jaringan menjadi kolap atau macet.
h. Transmisi. Merupakan media untuk mengirimkan trafik dari suatu tempat ke tujuannya. Jenis transmisi yang dipergunakan cukup beragam, dapat berupa link E-1, SDH STM-N, ataupun langsung antar router dengan POS

1. Parameter Jaringan IP

Beberapa parameter yang dijadikan referensi umum untuk dapat melihat performansi dari jaringan IP adalah seperti: Utilisasi/Okupansi, Paket Loss, Delay, dan Availibilitas.
a. Utilitisasi/Okupansi
Teknologi IP adalah teknologi connectionless oriented, dimana proses transmisi informasi dari pengirim ke tujuannya tidak memerlukan pendifinisian jalur terlebih dahulu, seperti halnya teknologi connection oriented.
clip_image002
Dalam hal ini utilisasi/okupansi jaringan cenderung dipengaruhi langsung oleh trafik yang ditransmisikan melewati jaringan IP tersebut. Sebagai gambaran pada tabel di bawah ini, menunjukkan besarnya bytes yang diperlukan untuk proses aplikasi IP.
Application
Packet Size
TELNET
64 – 1518 bytes
HTTP
400 – 1518 bytes
NFS
64 – 1518 bytes
NetWare
500 – 1518 bytes
Multimedia
400 – 700 bytes
Utilisasi/Okupansi IP yang dinyatakan dalam persen, dapat dihitung sebagai berikut :
clip_image004
Seiring dengan perkembangan di teknologi jaringan IP dan kebutuhan dari layanan yang jalan di jaringan tersebut, layanan di jaringan IP tidak lagi hanya mengenal kelas Best Effort. Jaringan IP sudah dapat melakukan pengolahan trafik sesuai permohonan dari pelanggan ataupun disesuaikan dengan permintaan dari suatu layanan. Pengelolaan traffic ini dikenal dengan QoS (Quality of Service). QoS di jaringan dapat dikelompokan terdiri atas beberapa kelas layanan, mulai dari kelas Best Effort, kelas real time (terutama dipergunakan oleh layanan yang memerlukan pengiriman traffic yang real time), kelas yang membagi atas trafik yang dijamin dan best effort, dan kelas lain
b. Paket Loss / kongesti
Packet loss didefinisikan sebagai kegagalan transmisi paket IP mencapai tujuannya. Kegagalan paket tersebut mencapai tujuan, dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinkan, diantaranya yaitu:
- Terjadinya overload trafik didalam jaringan,
- Tabrakan (congestion) dalam jaringan,
- Error yang terjadi pada media fisik,
- Kegagalan yang terjadi pada sisi penerima antara lain bisa disebabkan karena overflow yang terjadi pada buffer.
Di dalam implementasi jaringan IP, nilai packet loss ini diharapkan mempunyai nilai yang minimum.
Secara umum terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai packet loss sesuai dengan versi Tiphon yaitu seperti tampak pada tabel berikut.

Kategori performansi jaringan IP berdasarkan packet loss (Sumber : Tiphon).
Sangat Bagus
0%
Bagus
3%
Sedang
15%
Jelek
25%
c. Delay
Delay adalah waktu tunda suatu paket yang diakibatkan oleh proses transmisi dari satu titik ke titik lain yang menjadi tujuannya. Delay di dalam jaringan dapat digolongkan sebagai berikut:
* Packetisasi delay
Delay yang disebabkan oleh waktu yang diperlukan untuk proses pembentukan paket IP dari informasi user. Delay ini hanya terjadi sekali saja, yaitu di source informasi.
clip_image006
* Queuing delay
Delay ini disebabkan oleh waktu proses yang diperlukan oleh router di dalam menangani transmisi paket di sepanjang jaringan. Umumnya delay ini sangat kecil, kurang lebih sekitar 100 micro second.
* Delay propagasi
Proses perjalanan informasi selama di dalam media transmisi, misalnya SDH, coax atau tembaga, menyebabkan delay yang disebut dengan delay propagasi.
d. Jitter
Jitter merupakan variasi delay antar paket yang terjadi pada jaringan IP. Besarnya nilai jitter akan sangat dipengaruhi oleh variasi beban trafik dan besarnya tumbukan antar paket (congestion) yang ada dalam jaringan IP. Semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya congestion dengan demikian nilai jitter-nya akan semakin besar. Semakin besar nilai jitter akan mengakibatkan nilai QoS akan semakin turun. Untuk mendapatkan nilai QoS jaringan yang baik, nilai jitter harus dijaga seminimum mungkin.
Terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai peak jitter sesuai dengan versi Tiphon, yaitu:
Kategori Degredasi
Peak Jitter
Sangat Bagus
0 ms
Bagus
75 ms
Sedang
125 ms
Jelek
225 ms

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...